RSS

Rekomendasi

Hal-hal yang bisa kami rekomendasikan bagi SD Tunas Unggul diantaranya :

Jangka pendek

  • Mempertahankan inovasi-inovasi pendidikan yang telah ada
  • Menambahkan alat-alat bermain edukatif
  • Menambahkan ekstra kurikuler

Jangka panjang

  • Diharapkan sekolah ini bisa menjadi sekolah percontohan bagi sekolah lain dalam mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan
  • Sebaiknya sekolah ini mempersiapkan tenaga kependidikan untuk menerima dan menunjang kebutuhan bagi ABK bukan hanya yang berkesulitan belajar saja, melainkan juga menerima hambatan visual, auditif, sensori, motorik, emosi dll.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2012 in KAJIAN LAPANGAN

 

Inovasi Pendidikan di SD Tunas Unggul

Di SD Tunas Unggul terdapat inovasi dalam hal kurikulum, yaitu tentu saja semua program pembelajaran diberikan dalam bentuk Program Pembelajaran Individual, yang didasarkan pada hasil asesmen dan observasi terhadap setiap siswa pada saat mereka menjadi siswa baru. Khusus pada anak yang memiliki hambatan belajar spesifik, pemberian materi akademik haruslah diawali dengan pemberian terapi okupasi terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi organ yang berpengaruh terhadap pembelajaran, agar pencapaian akademik dan perkembangan pun bisa optimal.

Inovasi lain dalam hal kurikulum di SD Tunas Unggul ini adalah jika pada SD lain pembelajaran tematik diberikan hanya pada siswa kelas 1 hingga rata-rata kelas 3, di SD Tunas Unggul ini pembelajaran tematik diberikan hingga siswa kelas 6. Hal ini bertujuan agar tercapainya pembelajaran yang aktif dan menyenangkan sesuai dengan prinsip sekolah yang ingin mewujudkan pembelajaran interaktif di lingkungan sekolahnya.

Sekolah ini menyediakan pendidikan bagi ABK ( anak berkesulitan belajar ) dengan cara memberikan terapi okupasi terlebih dahulu sebagai penguatan pisiologis dan sensorisnya agar anak mengembangkan kemampuan akademik secara optimal.

Inovasi lainnya yang kami temukan di sekolah ini, ialah saat proses ujian berlangsung. Jika di sekolah lain ujian dilaksanakan di ruangan dengan pengawasan yang ketat, anak duduk dikursi masing-masing dapat menimbulkan ketegangan pada anak. Sekolah ini, ujian dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti games / permainan. Karena, sekolah ini memegang prinsip Global Interactive, dimana anak-anak melaksanakan ujian dengan senang hati dan aktif.

Yang uniknya lagi, sekolah ini juga tidak memiliki kantin. Karena sekolah ini telah menyediakan makanan siang yang sehat bagi siswa-siswinya. Dimana setiap kelas mempunyai jadwal masing-masing untuk mengantri mengambil makanan, sehingga kondisi makan siang juga tetap tertib.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2012 in KAJIAN LAPANGAN

 

INOVASI PEMBELAJARAN KONSTEKTUAL

Konsep Dasar dan Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005).

Pembelajaran kompetensi merupakan suatu sistem atau pendekatan pembelajaran yang bersifat holistik (menyeluruh), terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait, apabila dilaksanakan masing-masing memberikan dampak sesuai dengan peranannya (Sukmadinata, 2004).

Berdasarkan pengertian pembelajaran kontekstual, terdapat lima karakteristik penting dalam menggunakan proses pembelajaran kontekstual yaitu:

1. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.

2.    Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru, yang diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan cara mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.

3.    Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.

4.    Memperaktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.

5.    Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

Pendekatan dan Prinsip Pembelajaran Konstektual

Pendekatan pembelajaran kontekstual

Berkenaan dengan aspek kehidupan dan lingkungan, maka pendekatan pembelajaran ada keterlibatan pada siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian, serta konteks kehidupan dan lingkungan. Pembelajaran dengan fokus-fokus tersebut secara konprehensif tercantum dalam pembelajaran kontekstual. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang berkembang.

Dengan demikian, pendekatan pembelajaran CTL menekankan padaaktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental. CTL memandang bahwa belajar bukanlah kegiatan menghafal, mengingat fakta-fakta, mendemonstrasikan latihan secara berulang-ulang akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. Dalam pembelajaran CTL, belajar di alam terbuka merupakan tempat untuk memperoleh informasi sehingga menguji data hasil temuannya dari lapangan tadi baru dikaji di kelas. Sebagai materi pelajaran siswa menemukan sendiri, bukan hasil pemberian apalagi dialas oleh guru.

Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual

Elaine B. Jhonson (2002), mengklaim bahwa dalam pembelajaran kontektual, minimal ada tiga prinsip utama yang sering digunakan, yaitu: saling ketergantungan (interdepence), diferensiasi (differetiation), dan pengorganisasian (self organization).

Asas-Asas dalam Pembelajaran Kontekstual

Asas-asas sering juga disebut komponen-komponen pembelajaran kontekstual melandasi pelaksanaan proses pembelajaran kontekstual yang memiliki tujuh asas meliputi: 1) Kontruktivisme, 2) Inkuiri, 3) Bertanya, 4) Masyarakat belajar, 5) Pemodelan, 6) Refleksi, dan 7) Penilaian nyata.

Tahapan model pembelajaran kontekstual meliputi empat tahapan, yaitu: invitasi, eksplorasi, penjelasan dan solusi, dan pengambilan tindakan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2012 in MATERI INOVASI PENDIDIKAN

 

INOVASI PEMBELAJARAN MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI (INTERNET)

Bahan belajar merupakan seperangkat material yang digunakan seseorang untuk melakukan kegiatan belajar. Bahan belajar dapat berupa dikemas sedemikian rupa agar menarik pembelajar sehingga mudah didistribusikan dengan efektif dan efesien dalam mencapai sasaran belajar. Bahan belajar dapat dikatahorikan menjadi dua kelompok, yaitu bahan ajar tercetak atau printed materials dan kelompok bahan belajar tidak tercetak atau non printed materials.

Bahan belajar yang dikembangkan dapat digunakan sebagai sumber utama pembelajaran dan bahan belajar yang sifatnya penunjang untuk pengayaan atau kategori suplemen. Dua kelompok ini dapat dilihat dari penggunaan bahan ajar dalam proses pembelajaran, yaitu bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran dengan bimbingan langsung dari guru, dan bahan ajar yang digunakan siswa untuk belajar mandiri tanpa bimbingan langsung guru. Kaitannya dengan elearning, ada kecenderungan bahan ajar itu cocok untuk kepentingan belajar jarak jauh, seperti modul. Langkah-langkah pengembangan bahan ajar diawali persiapan yang dipelajari adalah kurikulum/GBPP mata pelajaran tertentu yang berkaitan dengan tujuan, struktur materi, strategi/metode dan evaluasi. Langkah berikutnya penulisan bahan ajar sesuai karakteristik yang telah dirancang, disusul dengan diskusi isi draft bahan ajar pada kelompok sejenis misalkan KKG yang melibatkan ahli yang berbeda. Setelah itu, perhatikan sistematika, penulisan, dan kelengkapan bahan penunjang seperti gambar, tabel dsb. Pendekatan dalam perancangan bahan ajar adalah kawasan teknologi pembelajaran meliputi desain, pengembangan, pemanfaatan, penglolaan dan penilaian. Kelima kawasan ini kait mengkait dalam praktek pembelajaran yang berbasis e-learning.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2012 in MATERI INOVASI PENDIDIKAN

 

INOVASI PEMBELAJARAN KOMPETENSI

Pembelajaran kompetensi menunjukan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru dalam mengelola pembelajaran yang menekankan pada kemampuan dasar yang dilakukan siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pembelajaran kompetensi menekankan pencapaian standar kompetensi yang diurai menjadi kemampuan dasar yang diurai menjadi beberapa materi pelajaran yang cakupannya beberapa indikator. Prinsip-prinsip pembelajaran kompetensi bertitik tolak pada pengelolaan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan suatu kondisi dapat terjadi proses belajar pada siswa dengan melibatkan berbagai aspek yang mempengaruhinya baik yang terdapat dalam diri siswa maupun sesuatu yang berada pada lingkungan sekitarnya serta peranan guru.

Pembelajaran kompetensi memilki karakteristik khusus yang berbeda dengan pembelajaran lainnya, seperti apa yang dipelajari siswa, bagaimana proses pembelajaran, waktu belajar, dan kemajuan belajar siswa secara individual. Untuk pengelolaan kegiatan pembelajaran kompetensi harus dipertimbangkan pengelolaan ruangan kelas, pengelolaan siswa, pengelolaan pembelajaran, strategi kegiatan belajar mengajar, sarana dan sumber belajar. Pendekatan pembelajaran kuantum dapat dilakukan melalui pembelajaran bermakna dan tematik. Kedua pendekatan ini dapat dikembangkan dengan tetap menyesuaikan terhadap tingkatan kematangan belajar anak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2012 in MATERI INOVASI PENDIDIKAN

 

INOVASI KURIKULUM

Inovasi kurikulum dan pembelajaran dimaksudkan sebagai suatu idea, gagasan atau tindakan tertentu dalam bidang kurikulum dan pembelajaran yang diangap baru untuk memecahkan masalah pendidikan. Masalah-masalah inovasi kurikulum berkaitan dengan azas relevansi antara bahan pembelajaran dengan kebutuhan siswa, antara kualitas pembelajaran di sekolah dengan pengguna lulusan di lapangan pekerjaan dll. Berkaitan dengan mutu secara kognitif, afektif, dan psikomotorik, sedangkan pemerataan yang berhubungan dengan kesempatan dan peluang, kemudian efisiensi dari segi internal dan eksternal.

Munculnya inovasi beragam, Hamalik (l992) menjelaskan bahwa: 1) ada inovasi yang dikembangkan untuk menjawab permasalahan relevansi seperti program muatan lokal dalam kurikulum sekolah dasar dan sekolah lanjutan, 2) ada inovasi yang diarahkan untuk menjawab tantangan pemerataan pendidikan seperti Universitas terbuka, SMP Terbuka dan Program Paket B pada pendidikan luar sekolah., 3) Inovasi yang lebih dititikberatkan pada upaya menanggulangi permasalahan kurang memadainya mutu lulusan, seperti KBK, sistem Modul, 4) Inovasi yang berkaitan pada misi utamanya adalah menjawab permasalahan efesiensi pendidikan seperti sistem maju berkelanjutan dan sistem sekolah kecil.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2012 in MATERI INOVASI PENDIDIKAN

 

KONSEP PEMBELAJARAN KUANTUM

Menurut DePorter dalam Quantum Teaching (2000:4), Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitasi SuperCamp.

KARAKTERISTIK UMUM

Beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk sosok pembelajaran kuantum sebagai berikut:

  • Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif. Oleh karena itu, pandangan tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif; bukan teori fisika kuantum.
  • Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis. Manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal.
  • Pembelajaran kuantum lebih bersifat konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau maturasionistis. Pembelajaran kuantum menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal dan memudahkan keberhasilan tujuan pembelajaran.
  • Pembelajaran kuantum berupaya memadukan [mengintegrasikan], menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi-diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan [fisik dan mental] sebagai konteks pembelajaran.
  • Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.
  • Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
  • Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
  • Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
  • Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
  • Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan [dalam] hidup, dan prestasi fisikal atau material.
  • Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran
  • Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi.
  • Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.

Dalam Quantun Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan penciptaan lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan memperoleh suatu penguat (reinforcer) dan akan mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.

Dalam pembelajaran Quantun Teaching, murid akan lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri. Penerapan pembelajaran Quantun Teaching akan menjadikan interaksi-interaksi yang menggubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka dan orang lain.

Model pembelajaran Quantun Teaching akan menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi proses belajar dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, dan mengembalikan proses belajar ke keadaan mudah dan alami. Di dalam Quantun Teaching, proses belajar siswa dimulai/beranjak dari informasi atau sesuatu yang telah ada atau diketahui siswa sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka pelajari.

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2012 in MATERI INOVASI PENDIDIKAN